thoughts, stories, life.

oh, and.. memories.

duabelas bintang

Padaku,
seorang teman berbagi
duabelas bintang miliknya,
yang lalu kutahu begitu berharga.

Maka satu kisah tertulis manis
dan cahaya terjejak di hati,
sekejap—
lalu pergi.

Tapi nikmati saja airmata dan mimpi..
karena percayalah,

Cerita ini akan abadi.

November 12, 2008 Posted by Disa Tannos | daily smiles, life oh life., sunshine (: | | 4 Comments

Beware! Penipuan oleh ibu-ibu berjilbab

Jumat kemarin, paman datang. pulang dari Harvest Month, gue jalan ke psiko dari kosan buat ngambil ATM. Eh salah deng, ngambil duit. Kalo ngambil ATM sih gue ga kuat (aduh maaf ya bok, suka gini kalo udah malem hehe). Abis nyebrang dari barel—sori men, bagian sini cuma anak UI yang ngerti HAHAHA ampun—, gue jalan di trotoar menuju ke arah psiko, sambil merenungi nasib kenapa ya gue boros banget make duit sampe besar pasak daripada tiang begini (Mana rabu kmaren gue dikerjain Endi diajak makan mie ayam di restoran Jepang, patungannya 50ribu padahal makannya dia seporsi, gue sama Mia paroan. Babi emang. Lo kira gue ga sadar? Gue cuma males aja nyari ribut. Sapi..) Suddenly, ada ibu-ibu manggil saya (Cinta Laura mode: on).

IIJ (Ibu-Ibu Jilbab): Neng, maaf neng..
Gue: Iya bu?
IIJ: Kalo mau naek bis kuning gimana caranya ya?
Gue: Oh tunggu aja di haltenya bu.. tuh di depan situ ada kok..
IIJ: Oh gitu ya, iya nih saya mo ke srengseng sawah tapi duit saya tinggal 2 ribu, daritadi nungguin bis ga dateng2
Gue: (Aduh kesian juga nih ibu) Ya ampun..
IIJ: Iya, tapi kalo bis kuningnya ga nyampe srengseng sawah ya neng?
Gue: Nggaklah bu, mesti naek angkot kalo gitu..
IIJ: Neng ibu boleh minjem 3 ribu ga buat pulang? Pas kalo sampe rumah, mana ibu juga belom makan, lagi hamil pula.. kalo sama makan mah 10 ribu abis neng..
Gue: (Makin kasian tapi bingung, si ibu emang umur brapa sih? Masih bisa hamil apa? Mukanya sih kayanya udah 40an) Aduh aduh ya udah deh bu ini sekalian makan *ngeluarin duit 7ribu sambil mikir, biarin deh gue tambah miskin yang penting masih bisa makan*
IIJ: Aduh makasih banget ya neng, makasiih.. ini ibu udah bingung laper banget tapi mo makan duit tinggal 2ribu..
Gue: Iya bu sama-sama, duluan ya bu! *berjalan pergi sambil berdoa soalnya gue ngerasa jahat karna anehnya feeling gue ga enak bgt padahal harusnya gue seneng*

Eh, pas gue nyampe Psiko..

TOBH 1 (Tukang Ojek Baik Hati 1): *terlihat gusar* Neng, ibu tadi mo ngapain?
Gue: Nanya bikun pak.. *nada ga yakin feeling makin ga enak*
TOBH 1 & 2: Jangan dikasih tau macem2 neng, pembohong itu dia..
Gue: Maksudnya?
TOBH 1: Iya dia udah bertaun-taun di sini, pembohong dia, jangan dipercaya..
Gue: *menghela nafas dalam hati* Makasih ya pak.. (yah si bapak mah, telat atuh!)
TOBH 1 & 2: Sama-sama neng..

Terus sambil jalan ke ATM dan sampe gue nyampe Bandung gue mikir, pantesan aja feeling gue ga enak, maksud gue bukannya gue mo percaya gitu aja sama si tukang ojek sih tapi emang dari awal gue udah berasa aneh aja sama tu ibu abis setelah gue pikir2 ga mungkin juga dia lagi hamil. Yang ada emang buncit aja kali. Sebenernya kalo dipikir-pikir lebay juga gue, cuma 7 ribu gitu.. tapi buat sekarang ini setiap ribuan yang gue miliki begitu berarti HAHAHA. Bukan gitu juga deng, cuma pas kejadian itu tuh pas banget gue lagi mikirin keadaan keuangan bokap nyokap gue yang lagi pas-pasan banget sampe bayar sgala macem bingung gimana caranya, eh gue malah bego gampang banget dikerjain orang. Emang gue gampang diboongin sih orangnya, tapi yang sekarang ini gue yang bego apa dia yang pinter nipu sih? Oh please tell me dia yang pinter nipu, PLEASE?

Yaudahlah ya relakan saja si 7 ribu rupiah itu, mungkin gue kecewa banget bukan karena jumlahnya sih tapi lebih karena gue udah mengasihani si ibu dengan sepenuh hati jiwa dan raga eh malah dikerjain, sialan. Kalo mau ya ngemis aja sekalian jangan pake boongin orang. Yah akhir kata gue cuma bisa bilang khususnya buat yang kuliah di UI, hati-hati kalo ketemu ibu2 jilbaban yang pura-pura hamil dan minta ongkos pulang. WASPADALAH!

July 20, 2008 Posted by Disa Tannos | life oh life. | | 12 Comments

Just a passing thought.

So I was in a bus on my way to cici Odi (one of my cousins)’s house. It was number 54, if I’m not mistaken. I was sitting at the front, and there was enough place for everybody to sit.

Then suddenly a boy–I assume he’s 12 or 13–came in with a little girl behind him. 4 or 5 years old, I guess. Yes, they are pengamen. So then the boy started singing a song by the Rock (yeah, the one that goes ‘malam ini ku sendiri lalalala..’). It’s not the way he sang that captured my attention coz believe me, it was horrible. Just like Simon Cowell always says in American Idol.

It was the little girl. She came into the bus with an ukulele, and when she started playing, I just couldn’t stop staring at her. She was damn good! I mean, her innocent look and the way she held the ukulele assured me that she wouldn’t play in the right way. But she didn’t miss a tune–yes she was fantastic, both with the ukulele and the singing. She sang much better than the boy, and for that age, I must say she’s unbelievable.

So I’m just wondering. There must be a lot more kids like her on the streets, singing and playing music to get some money–which then has to be given to their parents or anyone who ‘keeps’ them. Would their lives ever change? They sure got talents. What they don’t have is chance, and I feel really bad for them.

Sometimes when the angelic side in me pops out, I have this thought about planning something ‘big’, something to do with those talented kids spread around the big city streets, to make their lives better. But I just don’t know how.

Well, let’s just start with a pray. Will you pray too?

May 24, 2008 Posted by Disa Tannos | life oh life. | | No Comments Yet

pria dan sampah.

kali ini, saya duduk sendirian.
tidak bersama teman, apalagi pria (yang bukan teman).
apa? pria?

saya bilang, pria itu sampah.
tapi mereka sampah daur ulang.
sesuatu yang disebut sampah pasti pernah berguna, bukan?
dan setelah didaur ulang, mereka akan kembali berguna,
walaupun mungkin bukan untuk pemakai yang lama.

haha, sebuah analogi yang pas menurut saya.
saya tak mau munafik dengan mengatakan kami tak butuh pria.
tapi saya lebih senang menyebut mereka sampah setelah dibuat kecewa.
(kadang pelampiasan itu perlu, teman. demi harga diri.)
anggap saja saya membuang sampah.
atau sampah membuang dirinya sendiri?

setelah itu, waktunya mencari jalan masing-masing.
saya mencari yang belum terbuang (atau yang pernah dibuang?),
dan dia pun terdaur ulang.

demikianlah hidup berjalan seperti roda.
atau lingkaran setan.

June 7, 2007 Posted by Disa Tannos | life oh life. | | 2 Comments

(mereka bilang) harapan itu indah

mereka bilang, kita harus selalu berharap. karena tiap harapan membawa kita pada keindahan, dan keyakinan pada tiap harapan itu memberi kenyataan pada keindahan agar tidak cuma jadi semu semata.

tapi itu kata mereka, bukan kata dia. dia sudah berhenti berharap sejak lama. dia sudah berhenti yakin pada harapannya, sejak ia sadar bahwa tak ada satu pun keyakinannya yang berakhir pada keindahan yang nyata.

padahal dia dulu sama dengan mereka. padahal dia dulu penuh harapan. harapan yang bukan hanya harapan, karena ada semangat dan kegembiraan. harapan bahwa suatu saat ia akan melihat keindahan, dan keyakinan bahwa keindahan itu akan nyata. bukan cuma semu yang menyapa dan pergi ketika dia mencoba menyentuhnya.

sampai dia sadar dia terlalu lama menunggu. menunggu dengan semu yang tak juga menjadi nyata. menunggu dengan keindahan yang malah semakin menjauh, dan lalu gelap. menunggu dengan harapan yang perlahan mulai terkikis menipis, dan lalu hilang. hilang sebelum dia sempat menguburkan.

jadi dia tak pernah mau berharap lagi. karena berharap tak pernah membuatnya semakin bahagia. karena berharap malah membuatnya putus asa. karena harapan, keyakinan dan keindahan bersahabat dengan mereka, tapi tidak dengan dia.

June 6, 2007 Posted by Disa Tannos | life oh life. | | No Comments Yet

lihat, dengar, rasakan.


Dia tlah berdiri, coba berlari
Tak pernah dia jelang, hidup yang inginkan
Kilau hari-hari, dan birunya langit
Terhapus rasa indah, terpejam oleh lelah..

Jumat siang yang panas seperti biasa.
Seperti minggu lalu, dan minggu-minggu sebelumnya,
aku pulang sendiri.
Ya, aku memang lebih suka sendiri. Entah kenapa.
Turun dari kereta yang membawaku dari kampus,
menarik nafas lega—udara di luar mendadak seperti hembusan angin surga
karna banyaknya manusia yang berdesakan di dalam sana—
dan berjalan menuju tempatku biasa menunggu.
Angkutan umum?
Malu mengakuinya, tapi aku memang manja.
Terlalu manja untuk berpanas-panas dan berdesakan lagi,
jadi aku rela menunggu sedikit lebih lama sampai mobilku datang menjemput.
Dan saat itulah aku melihat anak itu.

Usianya sekitar 4 tahun. Anak perempuan mungil dan manis.
Tapi dekil, dengan rambut kecoklatan terbakar matahari.
Bibir mungilnya melantunkan sebuah lagu yang tak kukenal—
Bahkan lidahnya masih cadel, sehingga kadang aku tak mengerti apa yang ia nyanyikan.
Jika aku tidak sendiri,
mungkin aku hanya akan mengibaskan tangan. Lalu membuang muka.
Tapi ketika sendiri, hati kecilku selalu bebas berkelana.
Dan kini ia berteriak, mengasihani makhluk mungil di depanku.
Ia terlalu muda untuk ini semua..


Dalam lelapnya mata, nikmat dunia menjelma
Sejenak dia berharap malam tanpa batas
Bunda slalu tanamkan, jangan pernah menyerah
Jalani dan panjatkan, kelak syukur kau ucapkan

Aku menengadah dan tersenyum padanya—
senyum yang entah untuk apa.
Mungkin aku jatuh hati pada kepolosannya,
atau iba akan nasibnya.
Tapi yang kulakukan hanya memberi sedikit uang,
Sambil berharap tak akan ada yang merampasnya.
Dan sambil berpikir.. seperti inilah dunia nyata.

Dan hingga ia berlalu dari hadapanku,
aku masih terus memandangnya,
sambil bertanya-tanya.
Pertanyaan yang bahkan aku sendiri tak tahu cara mengungkapkannya.
Hanya satu: apakah ia bahagia?
Jadi aku hanya menunduk,
dan melakukan sesuatu yang sudah lama kulupakan.

Berdoa.

Pada diriNya, kumohonkan:
Mudahkan hidupnya, hiasi dengan belaimu
Sucikan tangan-tangan yang memegang erat harta
Sinari harinya, dengan lembut jemarimu
Buka genggaman yang tlah menjadi hak mereka..

Mungkin aku harus belajar menikmati berpanas-panas dan berdesakan dalam bus kota.

Dari lirik lagu Sheila on 7 – Lihat, Dengar, Rasakan.
One of my all time favourite songs. Lo harus denger. Bagus banget lagunya (:

May 26, 2007 Posted by Disa Tannos | life oh life. | | No Comments Yet

pertanyaan tentang hidup

pinggir jalan margonda.
berbohong, berbalik, masuk ke dalam cafe itu.
sambil bertanya-tanya.
sudah bosankah ia *dan para penjaganya* jadi saksi berbagai cerita hatiku?

aku dan seorang teman,
menghabiskan berjam-jam malam di tempat itu–
tempat di mana aku biasa menumpahkan semua perasaanku,
kepada mereka yang mengerti.
biasanya secangkir coklat hangat menemaniku,
tapi kali ini aku memilih single espresso.
pahit tapi manis; gambaran tepat suasana hati kami. bittersweet.
ia bersama secangkir besar hot tea,
mengalir selancar cerita kami berdua.
cerita tentang hati, cerita tentang kami,
juga tentang kehidupan.

berjam-jam setelah itu.
cangkir espressoku sudah kosong sejak tadi,
hot tea pun telah habis–
demikian juga waktu kami.
maka kami pun kembali,
dan aku membawa sejuta pertanyaan besar.
pertanyaan tentang kehidupan..

tentang pertemuan,
dan mengapa kita menilai orang lain begitu cepat;
mengapa tak jarang ada iri yang kadang tersembunyi;
mengapa selalu ada selamat tinggal?

tentang perbedaan,
dan mengapa begitu banyak yang harus dipertentangkan;
mengapa kadang yang berbeda tak bisa diterima;
mengapa kita bisa menjauh hanya karna berbeda?

tentang Tuhan,
dan mengapa kepercayaan harus selalu dipertanyakan;
mengapa kasih malah sering dinomorduakan;
mengapa hal prinsipil selalu jadi pemisah semuanya?

tentang cinta,
dan mengapa perasaan yang bebas harus begitu terikat;
mengapa ternyata dicintai tak lebih baik dari mencintai;
mengapa cinta yang indah bisa sangat menyakitkan?

May 22, 2007 Posted by Disa Tannos | life oh life. | | 1 Comment