Kampung Melayu – Bekasi
Tak ada yang istimewa dari tiga puluh menit itu. Sejak detik pertama dimulai saat aku tiba di depan pintu biru muda yang sudah terbuka, hingga detik terakhir saat aku melompat keluar dan kami saling menjauh. Tak banyak yang bisa digambarkan selama seribu delapan ratus detik dalam diam, kecuali satu dua kata yang sempat terucap dan senyum yang tersamar..
..dan kekagumanku.
Mungkin memang cuma aku yang bisa mengerti. Dan mudah-mudahan juga dia, agar aku yakin ini bukan bukti bahwa aku memang pemimpi.
Tuhan,
tunjukkan padaku bahwa dia memang hidup.. dan tak cuma satu hari.
satu kisah tentang asa
asa selalu melekat pada segenggam bahagia
yang telah meredup dan mati
di kedalaman kagummu padanya.
demikian ia pun turut padam dan tenggelam
tak mampu berdiri untuk melepaskan diri
dan dinding ini pun terlalu tinggi,
hingga aku harus memohon:
padamu, untuk berhenti saja memuja
agar hilang jurang yang membunuh mereka;
atau pada entah siapa,
pemberi cahaya pada bahagiaku–
agar ia dan asa dapat terbang dan kembali
ke hatiku, bukan dalam genggamanmu.
…
entah mengapa aku tahu,
pilihanku cuma satu.
selamat tinggal.
-
Archives
- November 2008 (2)
- October 2008 (3)
- September 2008 (5)
- August 2008 (1)
- July 2008 (8)
- June 2008 (1)
- May 2008 (2)
- April 2008 (2)
- March 2008 (2)
- February 2008 (1)
- November 2007 (2)
- July 2007 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
