kehidupan di bandara
here’s another fiction I just wrote. enjoy! (:
saya suka pergi ke bandara. suka dalam arti, ketika saya bosan, saya akan memacu mobil saya ke bandara untuk duduk berjam-jam di sana. iya, bandara yang itu. bandara yang banyak pesawatnya. bandara yang sibuk dari pagi sampai pagi lagi. bandara yang selalu penuh manusia dan koper-kopernya. mungkin aneh, tapi buat saya itu menyenangkan. kadang seperti melihat adegan akhir love actually.
saya akan makan di McDonald’s. atau sekadar menikmati satu atau dua scoop Baskin Robbin’s, kemudian duduk diam di kursi tunggu. lalu saya akan menggambar. menggambar mereka yang menunggu atau menghabiskan waktu. atau saya akan menulis. menulis mereka yang berpisah atau baru berjumpa. atau saya hanya akan menonton. menonton mereka yang menangis atau tertawa bahagia. yang jelas, percaya atau tidak, saya tahu lebih banyak tentang beberapa kehidupan, daripada para pemilik kehidupan itu sendiri.
saya pernah melihat sebuah keluarga bahagia, dan sepertinya kaya. mereka mengantarkan sang ayah yang akan bertugas ke Amerika. untuk waktu yang lama sepertinya. sang ayah menjanjikan oleh-oleh untuk anak perempuannya yang masih balita, lalu menggendong dan menciumnya. kemudian ia mengecup lembut istrinya, dan pergi meninggalkan mereka. saya sampai terharu melihatnya. saya bahkan sempat menggambarnya.
beberapa bulan kemudian saya kembali. dan apa yang terjadi? saya melihat sang ayah. mungkin tugasnya dipercepat, pikir saya. tapi tidak. ia diikuti seorang wanita muda, yang kemudian dirangkul dan diciumnya mesra. mereka tertawa-tawa. kemudian pergi, masuk ke dalam sebuah taksi. lelaki keparat, maki saya dalam hati.
saya pernah melihat sepasang anak muda. si perempuan menangis karena pacarnya akan kuliah di luar negri. tapi mereka membuat janji untuk saling setia, dan si lelaki pun bersumpah akan cepat kembali. kemudian mereka berpisah, persis seperti adegan film sampai saya ikut membayangkan sebuah lagu cinta sebagai soundtracknya. dan mereka sukses masuk dalam buku harian saya.
karena itulah setelah 6 bulan, saya masih ingat wajah mereka. saya mengenali si perempuan yang datang kembali untuk berlibur ke luar kota, tapi bersama seorang pria. mereka bergandengan dan berangkulan mesra. dan saya juga masih ingat beberapa bulan kemudian, ketika si perempuan kembali datang sendirian. untuk menjemput si lelaki yang kuliah di luar negri. tentu saja si lelaki tidak tahu apa yang pernah terjadi. perempuan sialan, pikir saya kemudian.
tentu saja tidak semua cerita berakhir dengan dusta. ada juga yang tetap bahagia. seperti pasangan muda yang berbulan madu, yang setelah pulang tampak semakin bahagia. seperti keluarga yang baru kembali dari liburan, dan terlihat sangat puas berbelanja. ada juga yang banyak berubah. seperti seorang gadis lugu yang sekolah ke luar negri, dan kembali dengan tattoo, tindikan dan rok mini. seperti lelaki kutu buku yang juga sekolah ke luar negri, dan menjelma menjadi lelaki tampan dengan nilai delapan.
tapi saya tetap tak bisa mengubur rasa penasaran. apa yang terjadi pada keluarga si lelaki keparat itu kemudian? apakah istrinya pernah tahu apa yang telah ia lakukan? apakah sampai sekarang mereka masih bahagia, atau pura-pura bahagia? apa yang terjadi pada hubungan perempuan sialan dan si lelaki setelah ia kembali? apakah mereka tetap berpacaran? apakah si perempuan tetap setia, atau masih menduakan dia? apakah pasangan muda yang berbulan madu akan bertahan selamanya?
kadang saya merasa bersalah karena saya tahu lebih banyak. tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa, bukan? karena itu bukan hidup saya. itu hidup mereka. saya sering berpikir, kita seperti aktor sinetron yang tak diberi tahu jalan ceritanya oleh sang sutradara. kita hanya memainkan peranan kita, tanpa tahu kapan berakhir dan bagaimana akhirnya. jika sedang baik hati, saya suka mendoakan mereka. meminta agar semua cerita diberi akhir yang bahagia.
sampai sekarang saya masih suka pergi ke bandara. menggambar, menulis, atau menonton saja. saya juga suka mengira-ngira. siapa tahu ada cerita yang lebih menarik lagi. siapa tahu saya bisa mendapatkan akhir dari cerita yang sudah ada. siapa tahu tokoh-tokoh yang saya kenali muncul kembali, dengan cerita baru untuk saya nikmati. siapa tahu.
pria dan sampah.
kali ini, saya duduk sendirian.
tidak bersama teman, apalagi pria (yang bukan teman).
apa? pria?
saya bilang, pria itu sampah.
tapi mereka sampah daur ulang.
sesuatu yang disebut sampah pasti pernah berguna, bukan?
dan setelah didaur ulang, mereka akan kembali berguna,
walaupun mungkin bukan untuk pemakai yang lama.
haha, sebuah analogi yang pas menurut saya.
saya tak mau munafik dengan mengatakan kami tak butuh pria.
tapi saya lebih senang menyebut mereka sampah setelah dibuat kecewa.
(kadang pelampiasan itu perlu, teman. demi harga diri.)
anggap saja saya membuang sampah.
atau sampah membuang dirinya sendiri?
setelah itu, waktunya mencari jalan masing-masing.
saya mencari yang belum terbuang (atau yang pernah dibuang?),
dan dia pun terdaur ulang.
demikianlah hidup berjalan seperti roda.
atau lingkaran setan.
(mereka bilang) harapan itu indah
mereka bilang, kita harus selalu berharap. karena tiap harapan membawa kita pada keindahan, dan keyakinan pada tiap harapan itu memberi kenyataan pada keindahan agar tidak cuma jadi semu semata.
tapi itu kata mereka, bukan kata dia. dia sudah berhenti berharap sejak lama. dia sudah berhenti yakin pada harapannya, sejak ia sadar bahwa tak ada satu pun keyakinannya yang berakhir pada keindahan yang nyata.
padahal dia dulu sama dengan mereka. padahal dia dulu penuh harapan. harapan yang bukan hanya harapan, karena ada semangat dan kegembiraan. harapan bahwa suatu saat ia akan melihat keindahan, dan keyakinan bahwa keindahan itu akan nyata. bukan cuma semu yang menyapa dan pergi ketika dia mencoba menyentuhnya.
sampai dia sadar dia terlalu lama menunggu. menunggu dengan semu yang tak juga menjadi nyata. menunggu dengan keindahan yang malah semakin menjauh, dan lalu gelap. menunggu dengan harapan yang perlahan mulai terkikis menipis, dan lalu hilang. hilang sebelum dia sempat menguburkan.
jadi dia tak pernah mau berharap lagi. karena berharap tak pernah membuatnya semakin bahagia. karena berharap malah membuatnya putus asa. karena harapan, keyakinan dan keindahan bersahabat dengan mereka, tapi tidak dengan dia.
-
Archives
- November 2008 (2)
- October 2008 (3)
- September 2008 (5)
- August 2008 (1)
- July 2008 (8)
- June 2008 (1)
- May 2008 (2)
- April 2008 (2)
- March 2008 (2)
- February 2008 (1)
- November 2007 (2)
- July 2007 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
